Tampilkan postingan dengan label Internet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internet. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Maret 2012

Home Entertainment Berbasis Android

Google dikabarkan akan memasuki bisnis multimedia dengan membuat sistem home entertainment nirkabel berbasis Android. Proyek ini memungkinkan pengguna bisa men-download digital konten dan streaming dari perangkat elektronik.

Bahkan, Google pun akan memproduksi speaker untuk melengkapi koleksi perangkat hiburannya.
Google sebelumnya telah membangun musik online berbasis komputasi awan bernama Google Music, yang terdiri atas lagu dan album, yang terintegrasi dengan jejaring sosial Google+. Google Music membuat pengguna bisa menyimpan dan memutar musik.

Membangun perangkat keras memang bukan bagian Google. Untuk Android, misalnya, Google tidak memproduksi sendiri perangkat Android, tetapi bekerja sama dengan produsen ponsel. 

Google TV sekalipun, perangkat televisinya tidak diproduksi sendiri oleh Google. Google hanya menyediakan perangkat lunak untuk televisi pintar ini.

Maka, para analis skeptis Google akan bisa serius di bisnis perangkat keras, apalagi di perangkat elektronik. Roger Kay, Presiden Endpoint Associates Technologies, menyarankan Google membuat prototipe untuk menjalankan perangkat lunak Google. 

Meski demikian, Google sebenarnya telah memiliki senjata untuk melengkapi proyek home entertainment ini, yaitu Google Music dan YouTube. 

Google sepertinya ingin meniru langkah Apple yang sukses dengan proyek multimedianya. Apple sukses membuat ekosistem dengan menggabungkan kemampuan software, konten multimedia digital, serta perangkat keras, seperti iPad, iPhone, dan iPod.

sumber : metrotik.com

Minggu, 25 Maret 2012

Mendulang Dollar dari Jejaring Sosial

Selama ini Facebook mendapat miliaran dolar dari jualan iklan di samping konten dengan unggahan 800 juta anggotanya. Sementara penggunanya tak mendapat sepeser pun. Kini Anda juga bisa ‘menambang’ uang.
Ini merupakan pengaturan yang meluas di banyak situs jejaring sosial terbesar. Namun pengusaha Bill Gross berencana mengubahnya. CEO UberMedia yang memiliki beberapa aplikasi jejaring sosial populer itu meluncurkan situs sosial media baru, Chime.in.
Situs itu secara efektif akan membayar pengguna yang berkontribusi di dalamnya. Situs ini memungkinkan individu mengirim foto, tautan, video dan teks dalam dua ribu karakter ‘lonceng’ yang akan memberi pengguna 50% pendapatan dari menjual iklan di laman profil pengguna.
Individu atau merek yang menjual bisa menyimpan semua hasilnya dari iklan. “Akhirnya, minat pencipta konten diselaraskan dengan kepentingan penerbit karena mereka akan mendapat sesuatu atas kerja kerasnya,” kata Gross.
Sebagian besar situs jejaring sosial baru mencoba memikat pengguna menjauhi pesaingnya dengan janji tunjangan yang lebih baik dan fitur lebih maju. Namun Chime.in menggunakan uang tunai untuk memastikan ‘orang punya saham saat menginvestasikan waktunya pada situs ini’.
Insentif fiskal ini berupaya mengatasi masalah yang melekat di tiap sosial media baru, yakni cara menarik pengguna. “Kami mengandalkan upaya jutaan orang untuk mendorong trafik kami,” katanya memaparkan strategi pertumbuhan usaha barunya.
“Kita akan memiliki komunitas yang besar yang dikuratori orang-orang kuat dan mereka akan mengarahkan trafik pada kami dan kami tak perlu mendorong trafik kami sendiri karena orang akan menyadari ada nilai ekonomi disini,” lanjutnya.
Hal serupa bisa ditemui pada YouTube yang ingin meningkatkan kualitas videonya. Situs berbagi video itu menerapkan strategi pembagian pendapatan serupa pada pengguna yang mengunggah konten populer. Meski strategi semacam ini seperti berjudi, Gross yakin uang akan meningkatkan kualitas konten Chime.in.
“Bila uang terlibat, Anda akan mendapat tingkat keseriusan yang tak muncul saat tak melibatkan uang,” katanya. Chime.in juga menawarkan solusi bagi mereka yang belum mengetahui cara memanfaatkan ‘likes’ Facebook atau pengikut Twitter untuk meningkatkan mereknya.
Sejauh ini, Disney, E! Entertainment, Universal Pictures dan Bravo TV telah mendaftar Chime.in untuk membuat laman bermerek mereka sendiri yang akhirnya bisa digunakan menghasilkan keuntungan.
“Selebriti, studio film, acara TV dan perusahaan penerbitan akan membuat laman di sini karena tak seperti laman Facebook, mereka bisa mencapai monetisasi berdekatan dengan konten itu sendiri, tak hanya melalui tautan dan tak semua orang mengikuti tautan yang diunggah di Facebook,” papar Gross.
Gross mengklaim, Chime.in akan berkembang lebih lanjut sebagai situs media sosial yang sudah ada dengan menawarkan desain tanpa ‘gangguan’ dan hanya menunjuk konten relevan.
Situs ini membuat pengguna bisa menandai ‘lonceng’ mereka hingga lima ‘minat’ seperti ‘Apple’ atau ‘arsitektur’ serta membuat orang bisa berlangganan update mengenai topik tertentu berdasarkan aliran ‘lonceng’ tag penulis yang ditambahkan pada tulisan mereka.
Seperti pada Twitter, pengguna saling berlangganan feed satu sama lain meski Chime.in juga menawarkan kendali tambahan atas apa yang muncul dalam ‘garis lonceng’ mereka.
Individu bisa memilih menerima update hanya berkaitan topik tertentu sehingga orang tak akan mendapat hal yang tak diinginkan. “Platform ini bukan hanya mengenai berita mendesak dan berhubungan dengan teman dan kerabat. Situs ini lebih menyelam ke dalam minat Anda,” kata Gross.
“Orang mulai menjauh dari pencarian web untuk bisa terhubung dengan orang lain dan mereka akan memberitahu saya apa yang perlu saya tahu,” lanjutnya. Ide ini memang sangat menarik namun eksekusi yang setidaknya pada versi beta situs ini masih butuh banyak perbaikan.
Chime.in mengklaim, algoritmanya akan ‘membawa konten berkualitas muncul’ dan memprioritaskan ‘lonceng’ terbaik meski mudah membayangkan penipu menemukan cara mempromosikan postingan berkualitas rendah, terutama dengan uang yang dipertaruhkan.
Aspek paling menarik mungkin bukan pada Chime.in melainkan situs seperti Facebook dan Twitter. Saat pengguna mendapat angin penawaran, akankah mereka tetap menggunakan situs jejaring sosial yang tak membagi ‘hasil curiannya’? Pertanyaan terbesar yang muncul setelah keberadaan Chime.in adalah, mengapa Facebook tak membayar saya?

Sumber : fajar.co.id

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes